Kompaknya Mahasiswa Tiga Suku NTB Di IPB

Walau berasal dari propinsi sama, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ternyata mempunyai beragam budaya. Mahasiswa IPB asal NTB ini mayoritas berasal dari tiga suku besar yang lebih dikenal dengan Sasambo yakni singkatan dari Sasak asal Pulau Lombok, Samawa asal Sumbawa dan Mbojo asal Bima. “Kalau suku Samawa dan Mbojo cenderung mempunyai budaya yang hampir mirip karena berada di satu Pulau Sumbawa. Berlainan dengan budaya suku Sasak,” kata Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Bima Bogor (FKMBB), Anjas Madhisha. Karena perbedaan budaya inilah Organisasi Mahasiswa Daerah (Omda) NTB terbagi menjadi tiga organisasi. Namun demikian saat Gebyar Nusantara 2015, mereka bersatu unjuk penampilan terbaiknya.

Salah satu perbedaan budaya yang menyolok adalah cara berpakaian suku tradisional terutama perempuan di sana. Masyarakat suku Sasak Lombok memakai kain tenun Sasak yang menampakkan beberapa anggota tubuh, yaitu tangan, leher dan wajah. Warna tenun Sasak cenderung berwarna teduh dengan motif makhluk hidup. Sedangkan suku Mbojo khususnya perempuan memakai rimpu yang menutup seluruh tubuhnya. Rimpu itu terbuat dari tenun tembe nggoli yang berwarna cerah ceria bermotif kotak-kotak khas kain sarung Bima. “Kalau yang masih gadis hampir seluruh tubuh tertutup hanya kedua mata saja yang terlihat seperti bercadar. Sedangkan ibu-ibu yang sudah menikah menampakkan wajahnya. Cara berpakaian ini dipengaruhi pemahaman terhadap syariat Islam dimana mayoritas suku Mbojo adalah muslim,” jelas Anjas. Sementara suku Sasak, Lombok lebih heterogen agamanya. “Masyarakat Lombok ada yang memeluk agama Islam, Hindu dan Kristen. Kita dengan mudah menjumpai pura (tempat ibadah umat Hindu) di mana-mana. Orang bilang ada pengaruh Bali di Lombok. Di sana kita juga bisa menjumpai satu daerah yang disebut Pulau Seribu Masjid karena setiap dukuh memiliki masjid,” imbuh Himpunan Mahasiswa Gumi Sasak (Himagis), Yopin Okta Ilham.

Di Lombok kita bisa menjumpai makanan khas diantaranya: ayam bakar taliwang, plecing kangkung, poteng jaje tujak (kue berbahan ketan hitam), bebalung (tulang iga) dan nasi balap puyung. Sedangkan makanan khas Bima yang bisa kita cicipi diantaranya : Noro oi mangge (terbuat dari air asam), mina sarua (ketan hitam difermentasi bersama rempah-rempah), pangaha bunga (kue berbentuk bunga), karoto sahe (kue berbentuk tenggorokan kerbau), madu dan susu kuda liar.

Selain makanan, berbeda pula seni budayanya.Tarian Bima yang terkenal dan masih lestari hingga kini diantaranya: wura bongi monca (penyambutan dalam pernikahan) dan gantau (semacam beladiri pencak silat). Budaya Bima banyak dipengaruhi suku Bugis, Sulawesi Selatan. “Hal ini karena pada masa lalu, raja-raja Bima banyak melakukan pernikahan dengan keturunan raja Bugis,” jelas Anjas. Sementara seni budaya di Pulau Lombok yang terkenal dan masih lestari antara lain: tari nyongkolan (penyambutan pengantin), musik kecimol (seperti gendang namun ribut berisik), dan tari peresean (tarian minta hujan). “Salah satu budaya yang senantiasa ditunggu masyarakat Lombok adalah Nyale atau mencari cacing laut berwarna warni yang enak dimakan. Pada puncak acara seluruh masyarakat berbondong-bondong ke tepi pantai menangkap nyale untuk nantinya dikonsumsi. Budaya Nyale ini dilatarbelakangi cerita rakyat ‘Putri Nyale’ yang mengorbankan diri ke laut demi menyelamatkan masyarakat,” ujar Yopin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *